x

Hari Santri dan Tonggak Resolusi Jihad

waktu baca 4 menit
Kamis, 22 Okt 2026 15:47 10 Firdaus Wibowo

 

ARHAPEDIA.ID, JOMBANG – Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia tidak berhenti ketika penjajah berhasil diusir. Bagi Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, semangat yang diwariskan para ulama dan santri pada 1945 harus terus hidup, meski bentuk perjuangannya kini berbeda.

Jika dahulu para santri ikut mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan, generasi sekarang memiliki tugas untuk memperkuat bangsa melalui ilmu pengetahuan dan menjaga persatuan.

Pesan itu disampaikan Gus Kikin dalam apel peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di halaman Pondok Pesantren Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026).

Di lingkungan pesantren yang lekat dengan sejarah perjuangan ulama tersebut, Gus Kikin mengajak para santri tidak hanya mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga memahami tanggung jawab yang diwariskan para pendahulu.

Menurutnya, kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar harus dijaga melalui kontribusi nyata bagi masa depan Indonesia.

“Ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa Indonesia sudah merdeka. Namun, kemerdekaan itu juga harus dijaga. Para leluhur kita telah memberikan keteladanan bagaimana mempertahankan kemerdekaan yang baru diproklamasikan,” kata Gus Kikin Kamis (22/10/2026).

Dari Resolusi Jihad Menuju Jihad Keilmuan

Bagi Gus Kikin, Hari Santri tidak sekadar menjadi peringatan tahunan. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk menengok kembali keberanian para ulama dalam mengambil sikap ketika kemerdekaan Indonesia menghadapi ancaman.

Salah satu tonggak sejarah yang terus dikenang adalah Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan yang lahir dari kalangan ulama Nahdlatul Ulama itu menjadi bagian penting dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Situasi saat itu belum sepenuhnya aman. Kedatangan pasukan Inggris yang disertai kepentingan Belanda memunculkan kekhawatiran akan kembalinya kekuasaan kolonial.

Sebelumnya, KH Hasyim Asy’ari juga telah menyampaikan seruan jihad yang mendorong umat untuk mempertahankan kemerdekaan. Semangat tersebut kemudian menjadi salah satu penggerak perlawanan rakyat, termasuk dalam rangkaian peristiwa yang mengarah pada pertempuran besar di Surabaya pada November 1945.

Kini, menurut Gus Kikin, semangat yang sama perlu diwujudkan melalui perjuangan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

“Jihad kita sekarang adalah jihad keilmuan. Kita harus memperdalam ilmu karena keilmuan menjadi salah satu hal paling efektif untuk membangun persatuan dan membuat Indonesia semakin kuat ke depan,” ujarnya.

Pesan tersebut menempatkan pendidikan sebagai bagian penting dari perjuangan santri masa kini. Ilmu bukan hanya bekal untuk meraih masa depan pribadi, tetapi juga modal untuk membangun masyarakat dan menjaga keutuhan bangsa.

Mengenang Sejarah, Menghidupkan Persatuan

Semangat mengenang perjuangan para ulama juga diwujudkan melalui rangkaian kirab Resolusi Jihad. K

Kegiatan ini direncanakan membawa prasasti Resolusi Jihad dan simbol-simbol Nahdlatul Ulama dari Mojokerto menuju Surabaya.

Sebanyak 99 personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dengan sepeda motor direncanakan mengikuti kirab tersebut. Rangkaian kegiatan ini menjadi pengingat atas mobilisasi perjuangan masyarakat yang turut mewarnai sejarah pertempuran Surabaya pada 10 November 1945.

Bagi Gus Kikin, mengenang sejarah tidak cukup dilakukan dengan menggelar upacara atau mengarak simbol perjuangan. Nilai-nilai yang diwariskan para pendahulu harus benar-benar dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu nilai yang dinilainya tetap relevan hingga sekarang adalah persatuan.

Di tengah perbedaan pandangan dan tantangan yang dihadapi bangsa, masyarakat perlu menjaga kebersamaan agar energi bangsa tidak habis untuk pertentangan.

“Persatuan itulah yang mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pesan dari para kiai dan leluhur kita pada masa itu harus terus kita pelajari dan terapkan sekarang,” ungkapnya.

Gus Kikin juga mengajak generasi muda dan insan media mengambil bagian dalam merawat persatuan. Setiap elemen masyarakat, menurutnya, memiliki peran untuk menjaga ruang kebersamaan sekaligus meneruskan nilai perjuangan para ulama.

Peringatan Hari Santri di Tebuireng pun menjadi pengingat bahwa perjuangan tidak selalu harus diwujudkan melalui perlawanan fisik. Pada masa kini, belajar dengan sungguh-sungguh, memperluas wawasan, mengabdi kepada masyarakat, dan menjaga persatuan merupakan bagian dari upaya meneruskan cita-cita para pendahulu.

Dari Resolusi Jihad 1945 hingga jihad keilmuan hari ini, pesan yang ingin diwariskan tetap sama: kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang harus dikenang, melainkan amanah yang harus dijaga bersama.

LAINNYA
x